masjid-aqshoMasjidil Aqsho adalah milik seluruh kaum muslimin secara historis; letaknya di Palestina. Dia juga biasa disebut dengan “Masjid Baitul Maqdis”, atau “Masjid Iliya”. Palestina dahulu pernah dihuni oleh dua suku Arab : suku Finiqiyyun, dan Kan’aniyyun, lalu setelah itu orang-orang Yahudi datang ke Palestina saat lari dari kejaran Fir’aun. Terakhir, Palestina dikuasai oleh khilafah Islamiyyah di zaman khilafah Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu ‘anhu- sampai zaman kita. Kemudian berusaha dikuasai secara zholim oleh orang-orang Yahudi dari berbagai negara, sebab mereka dahulu berpencar.

(lagi…)

Ditulis : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc (Mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga beliau Amin)

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasululloh.Diantaranya sebagai berikut:

1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan kemasjid, sebagaimana disampaikan Rasululloh:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: enyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu sholat satu ke sholat yang lain, karena hal itu adlah ribath. (HR Muslim dan Al Tirmidzi).

Juga dalam sabda beliau yang lain:

إِذَا تَوَضَّأَ الرَّجُلُ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَا يُخْرِجُهُ أَوْ قَالَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا إِيَّاهَا لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa. (HR Al Tirmidzi).

2. Puasa hari Arofah dan A’syura’ dengan dalil:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu. (HR Al Tirmidzi dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 3853)

3. Sholat tarawih di Romadhon dengan dalil sabda Rasululloh:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menegakkan romadhon (sholat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun ‘Alaihi).

4. Haji yang mabrur dengan dalil

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَ لَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya (HR Al Bukhori) dan sabda beliau:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Haji mabrur balasannya hanya syurga. (HR Ahmad).

5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar dengan dalil

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أُتِيَ اللَّهُ بِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِهِ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَقَالَ لَهُ مَاذَا عَمِلْتَ فِي الدُّنْيَا قَالَ يَا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَكَ فَكُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ وَكَانَ مِنْ خُلُقِي الْجَوَازُ فَكُنْتُ أَتَيَسَّرُ عَلَى الْمُوسِرِ وَأُنْظِرُ الْمُعْسِرَ فَقَالَ اللَّهُ أَنَا أَحَقُّ بِذَا مِنْكَ تَجَاوَزُوا عَنْ عَبْدِي

Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini (HR Muslim).

6. melakukan kebaikan setelah berbuat dosa dengan dalil:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia. (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 97.)

7. memberi salam dan berkata baik dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ كِمْ كُوْجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلاَمِ وَ حُسْنُ الْكَلاَمِ

sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik. (HR Al Kharaithi dalam Makarim Al Akhlak dan dishohihkan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 1035)

8. Sabar atas musibah dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنِّي إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنًا فَحَمِدَنِي عَلَى مَا ابْتَلَيْتُهُ فَإِنَّهُ يَقُومُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنْ الْخَطَايَا

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya (HR Ahmad dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).

9. Menjaga sholat lima waktu dan jum’at serta puasa Romadhon dengan dalil sabda Rasululloh:

الصلوات الخَمْسُ وَ الجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَ رَمَضَان إِلَى رَمَضَان مُكَفِّرَاتُ مَا بَينَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar (HR Muslim)

10. Adzaan dengan dalil sabda Rasululloh:

إِنَّ الْمُؤَذِّنَ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ

Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya. (HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih AL Jaami’ no. 1929)

11. Sholat dengan dalil sabda Rasululloh:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa. (HR Al Bukhori).

12. memperbanyak sujud dengan dalil sabda Rasululloh:

عَلَيْكَ بَكَثْرَنِ السُّجُوْدِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَ حَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيْئَةً

Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa) (HR Muslim).

13. sholat malam dengan dalil

عَلَيْكَ بِقِيَامِ اللَيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُم لإِلَى رَبِّكُمْ وَ مُكَفِّرَةٌ للسَّيْئَاتِ وَ مَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِHendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa (HR Al Haakim dan dihasankan Al Albani dalam Irwa’ AL Gholil 2/199).

14. berjihad dijalan Allah dengan dalil

يُغْفَرُ للشَّهِيْدِ كُلَّ ذَنْبٍ إلاَّ الدَّيْن

Senua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang. (HR Muslim)

15. mengiringi haji dengan umroh dengan dalil

تَابِعُوْا بَيْنَ الحَجِّ وَ الْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةَ بَيْنَهُمَا تَنْفِيْ الْفَقْرَ وَ الذُّنُوْبِ كَمَا تَنْفِيْ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ

Iringi antara haji dan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana AL Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besai. (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2899)

16. Shodaqah dengan dalil

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:271)Rasululloh pun bersabda:

الصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ

Shodaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api (HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan dishohihkan Al Al Bani dalam Takhrij Musykilat Al faqr no. 117)

17. Menegakkan hukum pidana dengan dalil

أَيُّمَا عَبْدٍ أَصَابَ شَيْئَاً مَمَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ثُمَّ أُقِيْمَ عَلَيْهِ حَدُّهُ كَفَرَ عَنْهُ ذَلَكَ الذَّنْبُ

Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut. (HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2732)Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.

KEMULIAAN HAMBA KETIKA MEMBACA AL FATIHAH DALAM SHOLAT
Betapa mulianya seorang mukmin dalam shalat, ia hamba yang rendah dan hina berbicara dengan ALLAH YANG MAHA MULIA dan AGUNG dan ALLAH menyahutnya dengan : hambaKu ………….. hambaKu dengan berulangkali.
Marilah kita hayati hadits qudsiy berikut :
Imam Ahmad bin Hambal dalam “musnad”nya, Al-Bukhary dalam Khalqu Af’ali-l-Ibad dan Muslim dalam “Shohih”nya, masing-masing meriwayatkan dari Abu Huroiroh r.a., bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :
” Allah berfirman : ” Aku bagi shalat (dalam kandungan Al Fatihahini dua bagian, setengah untukKu dan yang setengah untuk hambaKu, dan hambaKu berhak mendapat apa yang ia pinta”
Hamba itu berkata : ” Alhamdulillahirobbilalamin”
Sahut Allah : ” hambaKu memujiKu”
Hamba itu berkata : ” Arrohmannirrohiim”
Sahut Allah : ” hambaKu menyanjungKu”
Hamba itu berkata : ” Maalikiyaumiddiin”
Sahut Allah : ” hambaKu menagungkan asmaKU” atau menyahut dengan
” HambaKU menyerahkan diri kepadaKu”
Hamba itu berkata : ” Iyyakana’budu wa iyyakanastaiin”
Sahut Allah : ” Ini aku bagi antara Aku dan hambaKu, dan hambaKu berhak
mendapatkan apa yang ia pinta”
Hamba itu berkata : ” Ihdinashshirotol mustaqiim. Shirotholladina anamta alaihim
Ghoiril mangdhubi alaihim walaadhooliin”
Sahut Allah : ” Ini semua Aku karuniakan kepada hambaKu dan hambaKu
berhak mendapat apa yang ia pinta”.
Betapa mulia kita hamba yang hina yang penuh dengan dosa bisa berbicara dengan Allah Azza wa Jalla ketika kita membaca Al Fatihah dalam sholat, alangkah tidak sopannya kita jika kita tidak khusuk menghayati sahutan Allah. Mudah – mudahan Allah menolong kita Amin. Dan tidak dibenarkan kita membaca Al Fatihah dengan tidak berhenti sejenak (saktah) diakhir ayat karena disitu ada sahutan dari Allah Azza wa Jalla (*tambahan penulis).
Setelah selesai membaca Al-Fatihah, berhentilah sejenak, kemudian bacalah bersama imam
bacaan : ” Aaamiin “
Di saat imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras, wajib bagi makmum untuk diam dan menyimak dengan baik, seakan-akan ia membaca Al-Fatihah itu di hatinya. Dengan demikian ia telah membaca Al-Fatihah, lalu membaca Amin bersama imam, dengan harapan bacaan Amin itu tepat bersamaan dengan bacaanAmin malaikat di langit. Dengan demikian semoga Allah melimpahkan maghfirahNya.
Rasulullah s.aw. bersabda : ” Dijadikan imam, semata-mata untuk dituruti, maka jika ia telah selesai takbir maka segeralah bertakbir, dan jika ia membaca Al Qur’an, maka diamlah” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud. Berkata Imam Muslim : hadits Shohih”.
Jika menghendaki membaca dan khawatir kelengahan hati saat imam membaca Al-Fatihah, sehingga dengan demikian ia tidak membacanya walau dalam hati, maka sebaiknya ia membaca Al Fatihah itu ayat demi ayat di saat berhentinya bacaan imam seejenak pada tiap ujung ayat al Fatihah hingga akhir dan membaca Amin bersama imam. Karena membaca Al Fatihah di saat imam mambaca surat, berarti menyalahi perinta ” diam dan menyimak bacaan Al-Qur’an” yang sedang di baca imam. Wallahu a’lam.
Adapun saat imam membaca Al Fatihah dengan pelan yakni pada sholah zhuhur dan Ashar atau di rakaat ketiga Maghrib dan ketiga serta keempat Isya’, maka wajib bagi makmum membaca sendiri di belakang imam.
(Dinukil dari : BIMBINGAN SHALAT MENUJU PENGHAYATAN UBUDIYAH, pengarang Rahmat al-Arifin bin Ma’ruf, Penerbit Pustaka Lisan Malang, cetakan pertama tahun 1985″)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.